PUISIKU....


KEMARAU I
Sudah lama ku simpan cangkul ini…
Tak ada tanah yang luas bisa ditebas, pekarangan rumah kami hanya sejengkal
Untuk kenyamanan bermain anak-anak halaman itu sudah ku lantai

Sebutir beras jadi amat langka….
Cangkul itu tak berguna karena beras didatangkan dari luar negeri
Orang kampung ku enggan bertanam padi sawah, hama menyerang dan pupuk teramat mahal
Setelah dikira-kira, sungguh menggiurkan membuka kafe diselingin suara music

Wajah negeriku di musim kemarau….
Menjerit…terpekik…memekakkan telinga menjagakan mereka yang dibuai mimpi
Kesadaran itu baru muncul sekarang, menggantikan nasi dengan makanan lain

Tapi anakku tak mau makan, hanya nasi yang ia mau…
Bagaimana luka semakin mengoyak dalam
Uang recehan berderai jatuh di lantai tak cukup pembeli beras
                                                                                                                                   By. Devie

KEMARAU II
Mukaku terpaksa kutekuk di wajah bermuram durja
Sudah letih kaki melangkah membelah perbukitan menemukan sumber air
Matahari terik menyengat di ubun-ubun mata silau nun jauh di sana bagai lautan air
Sepasang tangan menjinjing ember kembali pulang melenggang kosong

Air…air…air…
Padi kami meranggas daunnya menguning tak kan sempat mencicip panen
Tanah mulai rengkah-rengkah menambah rengkah hati nan galau
Gagal panen….

Piring kosong menampung saat aku tiba di pintu rumah
Kegundahan membuncah ku simpan di sudut hati supaya senyum tetap memikat hati
Kupeluk si buah hati…
Sebab ia harus tetap tumbuh dan berkembang tak boleh meranggas….
                                                                                                                                   By. Devie

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diskusi Bareng FJPI di HPN 2023, Hadapi Pemilu 2024 Perlu Literasi Digital

Jangan Takut Debt Collector

Potensi Uang dari yang Terbuang