Raja Hutan, Nasibmu Kini...
PADANG--
Demi mengisi perut, orang rela melakukan apa saja. Bahkan melakukan sesuatu yang tak pernah dilakukan. Agaknya slogan itu berlaku juga bagi kawanan Harimau Sumatera. Hutan tak lagi menyediakan makanan yang cukup baginya. Rusa, kijang dan babi selalu diburu. Sementara hutan tempatnya berlindung juga makin terbatas karena terus dibabat untuk areal pertanian dan perkebunan.
Dengan terpaksa, untuk mengganjal perut hewan bertubuh loreng ini masuk kampung, menerkam apa saja yang bisa dimakan. Kerbau, sapi atau kambing yang tidak kandangkan, hanya ditambatkan saja pada pohon di belakang rumah, adalah santapan empuknya. Bahkan tak segan-segan si raja hutan ini juga mencelakai manusia.
Sejak 2004 hingga saat ini, tercatat 17 orang meninggal akibat diterkam inyiak balang sebutan nenek-nenek di kampung untuk si raja hutan. Hewan peliharaan masyarakat seperti sapi, kambing dan ayam entah sudah berapa banyak dilahapnya.
Manusia pun tak tinggal diam. Mereka geram, tak terima ternak peliharaannya dimakan harimau. Entah berapa pula kerugian materinya. Dengan berbagai upaya, manusia menghentikan langkah si raja hutan, salah satunya dengan memasang perangkap. Itulah konflik antara manusia dan harimau.
Separah itukah keadaannya? Ya. Menurut Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar, Ir.Agusril di Padang, konflik ini terjadi akibat benturan kepentingan antara manusia dan harimau. Seekor harimau dewasa memiliki daya jelajah teritori 5.000 hektar. Dan biasanya seekor harimau tak mau berada dalam satu wilayah jelajah dengan harimau lainnya. Artinya setiap harimau memiliki wilayahnya sendiri. Hal itu tak memungkinkan saat ini. Habitat si raja hutan ini terus bekurang.
Mangsa harimau di dalam hutan jumlahnya terus berkurang. Tiap pekan orang ramai-ramai berburu babi, rusa dan kijang. Harimau yang biasanya tak pernah mau bertemu manusia, bahkan mencium baunya saja, makhluk yang satu ini langsung menghindar. Tetapi kini justru sebaliknya. Harimau tak segan-segan menerkam manusia.
Populasi Harimau Sumatera
Indonesia pernah memiliki 3 dari 8 sub spesies harimau yang ada di dunia. Namun 2 jenis diantaranya sudah punah. Harimau Jawa (Panthera Tigris Sondaicus) dinyatakan punah tahun 1960 dan Harimau Bali (Panthera Tigris Balica) punah tahun 1980. Saat ini yang tersisa hanya sub spesies Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae).
Sejak 1996, kata Agusril yang didampingi Koordinator Konservasi dan Keanekaragaman Hayati (KKH) BKSDA Sumbar, Rusdian Ritonga, IUCN (International Union for Conservation of Nature) mengkategotikan Harimau Sumatera sebagai satwa yang terancam punah. Sedangkan Pemerintah Indonesia mengkategorikannya sebagai satwa yang dilindungi berdasarkan PP No.7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar.
Dari waktu ke waktu populasi hewan bertubuh loreng ini terus menurun. Hingga saat ini jumlahnya tak lebih dari 400 ekor yang tersebar di kawasan konservasi utama dan kawasan yang tidak dilindungi.
Ancaman utama populasi Harimau Sumatera adalah aktifitas manusia, seperti konversi kawasan hutan untuk tujuan pembangunan, perburuan serta perdagangan harimau dan perburuan terhadap satwa yang merupakan mangsa harimau.
Aktifitas tersebut menyebabkan habitat Harimau Sumatera terfragmentasi dan jumlah mangsa yang dapat diburunya juga menurun, sehingga sering terjadi konflik dengan manusia, baik karena harimau mencari mangsa ke pemukiman masyarakat maupun karena manusia yang masuk hutan untuk berbagai kepentingan.
Potensi konflik ini setiap tahunnya cendrung meningkat. Seringkali konflik ini menimbulkan korban kedua belah pihak dan biasanya berakhir dengan tersingkirnya harimau dari habitat alaminya.
“Kita harapkan, masyarakat yang memiliki hobi berburu bari, rusa dan kijang, dapat mengatur waktu berburunya, jangan lah setiap minggu. Begitu pula jumlah buruannya juga dibatas untuk menjaga populasi mangsa harimau ini. Bila harimau memiliki jumlah makanan yang cukup tentunya dia tidak akan merangsek ke perkampungan,” terang Agusril.
Lokasi konflik tersebar hampir di seluruh kabupaten di Sumbar seperti Kabpaten Dharmasraya, Kota Sawahlunto, Kabupaten Pasaman, Kabupaten Solok, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Limapuluh Kota, Kabupaten Padang Pariaman dan sekitar Kota Padang.
Selama tahun 2004-2007, terjadi 24 kasus konflik harimau dengan manusia yang menelan korban jiwa 14 orang meninggal dunia, korban ternak milik masyarakat yang di makan harimau dan harimau sendiri yang juga menjadi korban.
Upaya menghindari Konflik
Menurut Agusril, untuk mencegah konflik antara manusia dengan harimau antara lain, masyarakat jangan menggembalakan ternaknya di pinggir hutan, kurangi atau jika mungkin hentikan perburuan satwa yang merupakan mangsa harimau sepeti babi, rusa, kijang dan lainnya.
Masyarakat juga dilarang berladang di dalam kawasan hutan dan memasuki kawasan berhutan seorang diri. Untuk masyarakat yang memiliki lahan pertanian yang berada di pinggir hutan, pilihlah jenis tanaman yang tidak disukai oleh satwa mangsa harimau, karena seringkali harimau keluar dari hutan hanya untuk mengikuti mangsanya.
Jika masyarakat membuat jerat/perangkap untuk hama pertanian usahakan agar perangkap benar-benar spesifik dan sesuai dengan sasaran yang diinginkan. Lalu bila menemukan tanda-tanda keberadaan harimau, upayakan tindakan pengusiran dengan berbagai bunyi-bunyian seperti meriam bamboo atau kentongan.
Tahun 2008-2010, tercatat konflik harimau dan manusia di Bungus Padang, Siguntur dan Malalak yang menyebabkan 3 orang meninggal dunia. Namun 2 ekor harimau berhasil diamankan, masing-masing ditangkap di Sangir, Solok Selatan dan di Kambang, Pesisir Selatan saat si raja hutan masuk perangkap monyet.
Komentar
Posting Komentar