Buku KIA untuk Kesinambungan Perawatan Kesehatan Ibu dan Anak

 







Padang – Setiap ibu hamil selalu dibekali buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Buki ini penting sebagai alat berbasis rumah untuk memastikan kesehatan ibu dan anak yang berkelanjutan. Buku KIA panduan bagi keluarga dan penyedia layanan kesehatan untuk mengidentifikasi awal masalah kesehatan selama masa kehamilan dan kanak-kanak.

“Buku ini sangat efektif untuk memantau penyediaan dan ketersediaan layanan kesehatan ibu dan anak yang esensial untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak,” kata Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, Prof Dr Dante Saksono Harbuwono SpPD KEMD PhD saat membuka kegiatan Knowledge Sharing Program On Maternal And Child Health Handbook, Senin (11/9) di Auditorium Gubernur Sumatera Barat (Sumbar).

Kegiatan 15th Knowledge Sharing Program ini berlangsung di Sumbar dari 10 sampai 15 September 2023. Diikuti peserta dari delapan negara, seperti Kamboja, Kenya, Laos, Madagaskar. Kemudian Tajikistan, Vietnam, Thailand, Timor Leste serta 5 provinsi dari Indonesia. Yakni Sumbar, Jawa Tengah, Yogyakarta, NTB, dan Sulawesi Utara.

Pihaknya sangat menyadari, kehamilan, persalinan, nifas, dan masa kanak-kanak adalah masa kritis. Secara global, kematian ibu dan anak di masa kritis telah turun secara signifikan, tetapi bebannya masih tinggi.

“Penyediaan pemeriksaan antenatal berkualitas tinggi dan teratur selama kehamilan, memungkinan menentukan status kesehatan ibu hamil dan anak-anak. Pemerintah berkomitmen memprioritaskan ketersediaan layanan esensial bagi ibu dan anak,” terang Dante.

Dalam upaya meningkatkan pemanfaatan buku KIA tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pun telah menjalin kerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA). Di antaranya dengan mengadakan program pengembangan kapasitas kerja sama Selatan-Selatan melalui pertukaran pengetahuan, keahlian, dan sumber daya manusia (SDM).

“Salah satunya, kegiatan Knowledge Sharing Program on Maternal and Child Health Handbook. Tujuannya untuk mengakomodasi negara-negara untuk berbagi pengalaman dan praktik terbaik mereka dalam melakukan deteksi dini dan pemeriksaan kesehatan terpadu untuk Ibu dan Anak menggunakan buku KIA,” katanya.

Kepala JICA Perwakilan Indonesia, Mr Yasui Takehiro menjelaskan pihaknya memiliki kepedulian yang sama tentang bagaimana memperkuat keberlangsungan pengasuhan ibu dan anak serta menjamin saling pelayanan kesehatan ibu dan anak.

“Kami mempertimbangkan bagaimana kami dapat memastikan kualitas perawatan dalam deteksi dini semua masalah kesehatan masyarakat dengan memanfaatkan Buku KIA,” tuturnya.

Program ini, sebut Yasui Takehiro, memberikan kesempatan yang baik untuk berbagi pengalaman di antara peserta negara-negara. Pihaknya berharap semua peserta akan mengeksplorasi cara untuk memperkuat deteksi dini dan intervensi dini terhadap masalah kritis kesehatan Ibu dan Anak menggunakan Buku KIA dengan pertimbangan khusus untuk “tidak meninggalkan siapa pun” sebuah janji dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG).

Sementara Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah dalam sambutannya mengatakan, Pemprov Sumbar melalui Dinas Kesehatan Sumbar telah menjadikan buku KIA sebagai instrumen yang sangat membantu melalui pemberdayaan keluarga dan masyarakat, yang telah diperkenalkan sejak tahun 1994 dan diterapkan di Indonesia sejak 1997. Sumbar sendiri menerapkannya sejak 1999.

“Pada tahun 2004, Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 284/Menkes/SK/III/2004 tentang Buku Kesehatan Ibu dan Anak dinyatakan buku KIA satu-satunya buku pencatatan kesehatan Ibu dan anak,” ucap Mahyeldi.

Buku KIA ini memberikan informasi pelayanan dan perawatan kesehatan bayi serta pemantauan pertumbuhan dan perkembangan bayi. Juga sebagai catatan kesehatan ibu dan anak.

“Buku menjadi alat untuk memonitor kesehatan, alat komunikasi antar tenaga kesehatan dengan pasien,” sebutnya.

Ia menekankan peningkatan kesehatan ibu dan anak sesuai dengan harapan Sumbar dalam pencapaian pelaksanaan tujuan pembangunan berkelanjutan, dengan mensinergikan 17 indikator tujuan pembangunan berkelanjutan tersebut dalam RPJMD Sumbar 2021-2026.

“Di mana output dan outcome yang diharapkan dari tercapainya indikator tersebut adalah untuk menjamin kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan penduduk semua usia. Hal ini sejalan dengan misi pertama RPJMD Sumbar,” tukas Mahyeldi. (devi)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diskusi Bareng FJPI di HPN 2023, Hadapi Pemilu 2024 Perlu Literasi Digital

Jangan Takut Debt Collector

Potensi Uang dari yang Terbuang