Jadi Tuan Rumah Jambore Forum PRB 2023, BPBD Sumbar Gelar Berbagai Kegiatan

 


Padang – Tak terasa waktu yang berlalu. 14 tahun sudah terlewati setelah gempa dahsyat mengguncang Sumatera Barat pada 30 September 2009 silam. Agaknya sebagian masyarakat di daerah ini sudah lupa dengan tragedi memilukan itu. Meski demikian masyarakat harus tetap bersikap waspada dan siap siaga karena gempa bisa datang kapan saja tanpa perkiraan.

Tahun ini, Sumbar ditetapkan oleh BNPB sebagai tuan rumah pelaksanaan Jambore Nasional Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB). Melalui kegiatan ini diharapkan dapat mengingatkan masyarakat terhadap potensi bencana yang mengintai serta meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapinya.

“Tahun ini kita dipercaya menjadi tuan rumah Jambore Nasional FPRB yang rencananya akan dilaksanakan selama 3 hari, pada 28-30 Seeptember 2023,” kata Kepala BPBD Sumbar, Rudy Rinaldy kepada wartawan, kemarin.

Kegiatan ini, lanjutnya, akan dihadiri 8 provinsi yang rawan bencana gempa dan tsunami, masing-masing Provinsi Sulawesi Tengah, Jambi, Maluku, NTB, NTT, Jogjakarta, Jawa Timur dan Bali. Selain itu, utusan 19 kabupaten/kota di Sumbar juga bakal ikut ambil bagian.



Menurut Rudy, jambore nasional diawali dengan workshop tentang Jurnalisme Warga dan Dasar-dasar Diplomasi Kemanusiaan yang digelar oleh BNPB kerjasama dengan Caritas Germany. Jurnalisme warga ini menjalankan peran layaknya jurnalis. Melalui jurnalisme warga memunculkan keberagaman informasi dan menentukan informasi yang dibutuhkan warga.

Selanjutnya, pada 29 September, Forum PRB Sumbar menyampaikan program kegiatan yang sudah dilaksanakannya yang dihadiri seluruh peserta. Saat bersamaan, juga akan diluncurkan Early Warning System (EWS) disabilitas. EWS ini sama seperti EWS pada umumnya tetapi dilengkapi lampu rotary warna merah dan kuning.

“Lampu merah dan kuning pada EWS ini akan membantu para tuna rungu saat evakuasi. Lampu kuning adalah sebagai penanda telah terjadi gempa saja. Sedangkan indikator lampu merah menandakan telag terjadi gempa yang berpotensi tsunami, sehingga harus segera dilakukan evakuasi,” terangnya.

Usai peluncuran EWS disabilitas, pihaknya segera melakukan sosialisasi. Saat ini pihaknya tengah meminta data jumlah penyandang tuna rungu dan sebarannya.

Puncak Jambore Nasional FPRB yang juga bertepatan dengan peringatan 14 Tahun Gempa Dahsyat 30 September, akan diisi dengan perjalanan ke lokasi pemasangan garis batas Tsunami Safe Zone yang ada di dekat SPBU Ampang dan di Jalan Sawahan. (devi)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diskusi Bareng FJPI di HPN 2023, Hadapi Pemilu 2024 Perlu Literasi Digital

Jangan Takut Debt Collector

Potensi Uang dari yang Terbuang