Langganan Banjir
Kata orang, memasuki bulan September, Oktober, November hingga Desember, identik dengan musim penghujan. Suku kata ber di akhir nama bulan itu seakan menyuruh kita untuk selalu menampung ember. Entah benar entah tidak, tak tahu juga saya. Yang pasti, intensitas hujan mulai meningkat dengan durasi yang juga cukup lama. Ujung-ujungnya adalah banjir.
Jika hujan turun dalam waktu yang cukup lama, maka
dalam
sekejap saja, genangan air bakal dijumpai di setiap
sudut kota,
terutama di jalan raya. Badan jalan tak terlihat lagi. Dan kita juga tak tahu
tingkat kedalaman air hingga ke ujung jalan, apakah sama atau tidak. Sekali
waktu, karena tak mengira kedalaman air di badan jalan bisa bertambah dalam,
maka saya tempuh saja. Akibatnya, sepeda motor tiba-tiba mati mendadak.
Apalagi
jika hujan berlangsung lama. Maka dengar saja akan ada kabar kompleks
perumahan yang direndam banjir. Celakanya hal ini terjadi berulang kali. Penanganan sudah dilakukan oleh pemerintah kota setempat. Tapi hasilnya ternyata
tak maksimal. Tak
ada perubahan yang signifikan. Banjir masih saja melanda kota. Mungkin, karena terbatasnya anggaran
menyebabkan pemeliharaan drainase tidak optimal.
Lalu banjir di kompleks perumahan? Tentunya perlu
ditanyakan ke pihak pengembangnya. Artinya, pengembang perumahan tidak
memperhatikan masalah selokan ini. Sebab tak jarang selokan yang dibuat tak
sebanding dengan air yang bakal ditampungnya. Maka di sini,
peran instansi terkait dalam mengawasi kegiatan pembangunan perumahan.
Usai banjir, tentu penyakit akan mengintai masyarakat,
seperti
cikungya, sakit kulit dan lainnya. Belum lagi
penyakit akibat cuaca yang buruk, seperti pilek, demam dan selesma.
Aduh,
saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Bingung memikirkannya. Entah apa yang
salah. Kita sangat khawatir masyarakat disapu tsunami karena ancaman gempa disusul tsunami berpotensi besar terjadi di kota
yang berada di pinggir Samudera Hindia itu. Berbagai upaya
pun dilakukan untuk meminimalisir resiko tsunami. Tetapi
agaknya, tak perlu tsunami yang meratakan kota itu. Karena
banjir juga punya potensi yang sama untuk menenggelamkan kota.
Karena
apa? Karena kita selalu bertindak seperti pemadam kebakaran. Ketika terjadi
kebakaran, maka mobil pemadam tiba memadamkan api. Mereka pantang pulang
sebelum api padam. Setelah api padam, tentu baru pulang. Cuma segitu.
Untuk
penanganan banjir, mestinya tidak demikian. Setelah banjir surut, harus ada
pembahasan lanjutan bagaimana supaya banjir tidak terjadi lagi. Karena kerugian
akibat banjir bisa sangat besar. Sama dengan musibah lainnya, bisa merenggut
nyawa manusia.
Penanganan
banjir yang sederhana, mungkin dapat dilakukan dengan membangun kesadaran
masyarakat, untuk tidak membuang sampah di saluran air. Berbagai
jenis sampah selalu ditemukan di saluran air. Ujung di
muara Pantai Padang, selepas hujan lebat berbagai sampah bertebaran di muara. Mestinya,
pemerintah bersama masyarakat hendaknya selalu bergotong-royong.
Masyarakat
mestinya juga disadarkan tentang pentingnya menjaga
kebersihan
drainase, bandar, selokan atau saluran air dan membangun
drainase yang
memadai untuk menampung limbah maupun debit air hujan. Jangan semua lahan
dijadikan rumah dan ruko. Sediakan lahan untuk daerah resapan air.
Pada
beberapa kompleks perumahan, saya lihat saluran airnya memang teramat kecil.
Ukuran lebar dan dalamnya saluran tak sebanding dengan lingkungan perumahan.
Lalu pemilik rumah memilih membangun rumahnya dengan pondasi tinggi. Maka saat
hujan, jalanan komplek itu akan tenggelam oleh genangan air. Dan suatu saat,
tak hanya jalanan, kota ini bisa ditenggelamkan banjir. (unni)

Komentar
Posting Komentar