Mengenangmu dalam Perangko

CERPEN

Aku menemukannya secara tak sengaja. Sebuah album yang telah lama aku lupakan. Debu lumayan tebal menutupi permukaannya. Aku bersihkan sekenanya. Lalu dengan hati-hati, aku membalik lembar demi lembar. Kertasnya sudah buram, warnanya kekuning-kuningan. Ada bercak warna coklat pada beberapa bagiannya.

Namun lembarannya masih utuh, tidak ada yang terlepas. Begitu pula plastik kecil penahan perangko, masih kuat merekat. Perangko, kertas segi empat berukuran imut dengan gerigi di kelilingnya, juga masih menempel. Tak ada yang hilang.

Aku menarik nafas panjang. Sebenarnya, aku tak tertarik membukanya. Tetapi sebuah kekuatan lain, seakan menuntunku. Benda pos yang terpajang di buku itu, aku perhatikan satu persatu. Aku merabanya, pelan-pelan... Lalu mendekap album itu di dada. Ada yang bergemuruh di sana. Sambil memejamkan mata, sekelabat bayangan singgah di benakku. Oh. Aku tak percaya. Aku masih mengingatnya dengan jelas.

Album itu terlepas. Aku terpana... Lembaran album itu pun berserakan. Tetapi perangkonya masih melekat. Aku segera merapikannya. Sebagian besar dari perangko itu, aku kumpulkan dari surat-surat Hardi.

“Hardi....” aku mendesah lirih.

Album perangko itu sengaja aku taruh di gudang, di antara barang-barang tak berguna lainnya. Aku ingin melupakannya, seiring sebuah nama yang hendak aku kubur dalam-dalam. Suatu kebetulan aku menemukannya kembali di antara tumpukan buku. Mama memintaku mengumpulkan buku dan koran bekas. Pedagang barang bekas langganan mama akan datang menjemputnya. Kebimbangan pun menyergapku.

“Buku itu, harus dilenyapkan. Aku tak ingin mengingat apapun tentangnya,” kataku membathin.

Rasa perih itu ternyata tak pernah hilang. Enam tahun bukan waktu yang singkat. Aku berharap, waktu yang berlalu bisa mengeyahkannya dari pikiranku. Ternyata aku keliru, meski kini ada Darma di sisiku.

Hardi adalah masa laluku. Ketika masih SMA, aku rajin menulis cerpen maupun puisi di koran. Setiap minggu, ada saja cerpen atau puisi yang kukirim ke redaksi. Dan aku bersyukur, nyaris setiap puisi dan cerpen yang kukirim, selalu dimuat. Awak redaksi di koran itu selalu mengacungkan jempol ketika aku hendak menjemput honor. Mereka menyemangatiku agar selalu kreatif. Aku pun sangat menikmati hobiku yang satu itu.

Apalagi ketika banyak pembaca yang berkirim surat dan menjadi sahabat penaku. Maka sejak itu pula, aku punya kebiasaan baru meluangkan waktu untuk membalas surat-surat mereka. Salah satu diantaranya adalah Hardi. Dia menyukai cerpen dan puisiku. Tak pernah sekalipun dia melewatkan membacanya.

“Aku sangat menyukai cerpen dan puisimu. Bahkan aku harus berebut koran dengan adikku yang juga suka membaca cerpenmu.” Begitu salah satu isi suratnya yang selalu kuingat.

Masa-masa indah di SMA itu aku lewati dengan penuh suka cita. Apalagi ketika Hardi mengungkapkan rasa cintanya. Lengkap sudah kebahagiaanku sebagai seorang remaja. Kami bertemu sekali sebulan, Hardi datang ke kotaku saat libur. Maklum pacaran jarak jauh. Meski masih satu provinsi, tetapi kami tinggal di kota yang berbeda. Hardi sekolah di STM di kampungnya, sekitar 90 km dari kotaku.

“Luna....” Seraut wajah muncul di pintu gudang.

“Indri. Kok kamu bisa masuk ke sini,” tanyaku kaget.

“Aku sudah memanggilmu berkali-kali. Tapi tak ada sahutan. Akhirnya mama menyuruhku langsung saja ke gudang.”  

Matanya mendelik melihat buku yang aku pegang. Aku gelagapan. Segera album perangko itu aku taruh di belakang punggung. Tapi sia-sia. Indri mengenali album itu.

“Kau masih menyimpannya?” tanya Indri penuh selidik. Aku menggeleng.

“Surat-suratnya?”

“Sudah aku bakar. Album ini akan aku jual kiloan bersama barang bekas lainnya.”

“Jangan. Untukku saja,” sergahnya seraya mengulurkan tangan.

Aku tak keberatan. Mungkin lebih tepat jika Indri yang menyimpannya. Dia juga suka mengoleksi perangko. Sahabatku itu juga ikut menjadi saksi dari kisah album perangkoku. Bahkan, Indri yang mendorong aku agar menerima cinta Hardi. Sebab awalnya aku enggan pacaran jarak jauh.

Komunikasi diantara kami hanya lewat surat. Telepon genggam waktu itu masih menjadi barang mewah. Dalam suratnya, Hardi selalu memberiku ide-ide cemerlang dan menjadi bahan untuk cerpen dan puisiku. Begitu pula kala tulisanku jarang muncul di koran, maka Hardi akan bertanya. Bahkan dia mengkhawatirkan aku, karena mengira aku sakit. 

“Aku punya kabar kurang baik untukmu.”

Aku tersentak dari lamunan. Lagi, Indri mengagetkanku. Perasaanku jadi tak menentu. Kabar apakah yang hendak disampaikan Indri?

“A..a..ada apa Indri?”

“Hardi sudah pergi...” Indri menatapku.

“Aku dapat kabar dari sepupuku yang satu kantor dengan Hardi. Dia mengalami kecelakaan di tempat kerjanya,” katanya pelan.

Aku bagai disambar petir mendengarnya. Rasanya tak percaya. Sebulan yang lalu, aku bertemu dengannya. Katanya, dia menghadiri acara peresmian sebuah gedung. Kebetulan, perusahaannya yang mengerjakan pembangunan gedung itu.

Usai acara, dia menyempatkan diri menemuiku di kantor, sekaligus meminta maaf. Tak ada yang berubah dari dirinya. Tatapan matanya dan senyumnya itu, masih seperti dulu. Dia tetap menarik bagai magnet yang siap memurukkanku kembali, jika aku tak segera menyadarinya.

Hal seperti itu bukan pertama kali dilakukannya. Hardi sering berupaya menghubungiku, baik menemuiku secara langsung maupun menelponku. Dan aku selalu menghindar. Aku tak mau mengingatnya lagi. Aku sudah menguburnya dalam-dalam. Dan aku tak ingin menyakiti Darma yang dengan sabar menemaniku melewati masa-masa sulit itu.

“Aku takkan berhenti memohon maaf padamu,” katanya ketika aku bergegas meninggalkannya.

“Luna...” Indri memelukku.

Bulir bening itu pun pecah di pelupuk mataku. Aku tak mampu menguasai hatiku yang larut dalam duka. Aku menumpahkan tangis. Sungguh, aku tak pernah berharap kejadian tragis ini menimpanya, meski rasa benciku tak terhingga padanya. Rasa sakit yang ditorehkannya ternyata tak pernah bisa disembuhkan. Luka itu menyisakan sakit yang menghentak.

Betapa tidak. Aku menaruh rasa percaya besar padanya, pada kesetiaannya, meski kami jarang bertemu.  Jarak tak menghalangiku untuk selalu mencintainya. Bahkan hingga kuliah, aku tetap setia menantinya. Beberapa teman cowok di kampus yang berupaya mendekatiku, aku tolak dengan sopan.

Tetapi semua pengorbanan itu sia-sia. Impian yang ingin kubangun bersamanya, buyar seketika. Janjinya tak berujung. Dia meninggalkanku begitu saja dan menikah dengan gadis pilihan orangtuanya. Alasannya sangat sederhana, dia menerima perjodohan itu karena tak ingin dikatakan anak durhaka.

Kuliahku nyaris terbengkalai. Aku benar-benar tenggelam dalam keputusasaan. Meski akhirnya dengan bersusah payah aku bisa menyelesaikannya.

“Hardi sudah dimakamkan tadi. Dia sempat di rawat dua hari di rumah sakit. Tetapi nyawanya tak tertolong,” lanjut Indri.

Aku menyapu air mata yang masih tersisa. Kutarik nafas sedalam-dalamnya. Kemudian kulepaskan dengan nelangsa.

“Hardi bercerita banyak tentang kamu pada sepupuku. Katanya, dia menyesal meninggalkanmu. Dia ingin, kamu memaafkannya walau dia sadar, bahwa dia tak pantas dimaafkan.”

“Indri...” Aku kembali tak bisa menahan diri. Tangisku pecah lagi.

“Apalagi ketika rumah tangga yang dibinanya tak bertahan lama. Mereka berpisah. Kata sepupuku, sejak saat itu dia selalu berusaha mencarimu.”

Aku tak pernah cerita pada Indri ketika aku bertemu dengan Hardi. Aku tak ingin sabahatku itu mengkhawatirkan aku yang tak bisa menguasai diri jika bertemu dia. Dan aku memang tak pernah bisa mengahadapinya. Aku tak bisa mencak-mencak padanya, meski kutahu dia telah mengkhianatiku. Paling bisa yang kulakukan adalah menghindarinya.

“Aku... Aku terlalu egois. Aku, tak sedikitpun mengacuhkannya,” kataku terisak.

 “Jika kamu mau, besok kita ke makamnya. Kamu bisa minta izin tidak masuk kerja kan?”

Aku mengangguk pelan. Perlahan kami beranjak meninggalkan gudang. Aku menyadari, setiap orang punya takdirnya masing-masing. Kita tak pernah tahu soal itu, selain berupaya menjadi yang terbaik dan membahagiakan orang-orang tercinta. Mungkin aku ditakdirkan untuk Darma. Menerimanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Karena itu, tak ada alasan bagiku untuk tidak memaafkan Hardi. (***)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diskusi Bareng FJPI di HPN 2023, Hadapi Pemilu 2024 Perlu Literasi Digital

Jangan Takut Debt Collector

Potensi Uang dari yang Terbuang