Potensi Uang dari yang Terbuang

 




PROFIL  

Dewi hendak mengakhiri pertemuan hari itu. Jam dipergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Tetapi kelompok masyarakat Nagari Muaro, Kabupaten Sijunjung, Provinsi Sumatera Barat, masih ingin mendengarkan penjelasan darinya tentang pengolahan sampah dan aneka kerajinan yang dihasilkan dari sampah.

Pelatihan pun disepakati dilanjutkan besok, karena panitia memang sudah mengatur jadwal pelatihan selama dua hari. Peserta pelatihan yang berjumlah 60 orang, terdiri dari laki-laki dan perempuan, kembali ke rumah masing-masing.

Ini bukan kali pertama peserta ingin pelatihan diteruskan. Mina Dewi Sukmawati, begitu nama lengkapnya, sudah melanglang buana ke berbagai kota menjadi narasumber tentang pengolahan sampah. Pendiri Bank Sampah Pancadaya ini juga sudah didatangi berbagai pihak untuk melihat dari dekat kiprahnya dalam menangani sampah.

Bahkan ada kunjungan dari luar negeri, seperti dari Singapura, Malaysia, Taiwan dan Thailand. Mereka ingin melihat langsung yang dilakukannya. Bagi mereka, ada sesuatu yang tak biasa ada di sini. Seperti tamu dari Singapura yang mengangkat jempol atas upaya yang dilakukannya.

“Bagi mereka itu menjadi luar biasa karena kita menjaga kebersihan disebabkan kesadaran warga. Beda dengan Singapura, negara mereka bersih dari sampah karena adanya aturan yang ketat,” terang Dewi.

Wanita kelahiran 15 Mei 1973 ini, memang piawai dalam pengolahan sampah. Berbagai penghargaan telah diraihnya dari kreativitasnya mengolah sampah. Dan saat ini, Dewi tercatat sebagai salah seorang Nominasi Perempuan Inspiratif Tingkat Provinsi Sumatera Barat Tahun 2019.

“Semuanya itu didorong oleh kesadaran yang tinggi dalam menyatakan perang terhadap sampah. Kalau tidak kita mulai, siapa lagi,” katanya sambil tersenyum.

Menurut ibu dua orang anak ini, warga tertarik untuk mengolah sampah karena adanya kerajinan yang indah dan menarik yang dihasilkan dari sampah. Sementara untuk kegiatan menabung sampah, mereka kurang antusias.

“Dari pengalaman saya mengolah sampah sejak 2011, warga tak tertarik untuk menabung sampah. Meski telah terlihat hasilnya dari volume sampah yang berkurang, mereka tetap enggan,” ujar ibu dari Riski Deandika Khairunnisa dan Bayu Arif Defrianda ini.

Dewi mencoba mengembalikan ingatannya saat awal menggeluti sampah. Semuanya berawal dari keresahan. Saat itu ketika hujan lebat, bandar di lingkungan rumahnya penuh dengan sampah yang hanyut ke hilir. Di bagian hilir bandar, ada persawahan warga. Tak pelak sampah itu masuk ke areal sawah warga. Pemilik sawah mengamuk dan mengantarkan sampah-sampah itu ke kompleks mereka.

“Pemilik sawah mengira kami yang membuang sampah ke bandar dan akhirnya sampai ke sawah mereka. Sampah itu pun mereka taruh di kompleks kami,” urai warga Perumahan Tarok Indah Permai I, Kelurahan Gunung Sarik, Kota Padang ini.

Dewi berpikir keras mencari solusi. Hal ini tentu tak mungkin dibiarkan. Persoalan serupa akan berulang bila tak segera diatasi. Lalu dia teringat pernah mengikuti pelatihan manajemen dan kreasi yang disampaikan Bambang Suwerda, Penggagas Bank Sampah Indonesia. Bambang juga memberikan pelatihan tentang sampah.

Menabung Sampah

Ketika niatnya itu disampaikan pada ketua RT, bahwa dia akan melakukan pemilahan sampah dan akan melibatkan anak muda setempat agar mereka punya kegiatan. Sampah dikumpulkan dari setiap rumah warga. Sebelum dibuang, sampah dipilah dulu, terutama yang bernilai ekonomi.

Ketua RT memberikan dukungan. Dengan penuh semangat Dewi melakukan pemilahan dan menyimpan sampah di bank sampah memanfaatkan halaman rumahnya. Tetapi tidak ada respon dari warga. Mungkin karena bank sampah masih sesuatu yang baru bagi mereka. Entahlah.

“Upaya saya ini tak mendapat respon dari warga. Bahkan mereka berpendapat, kalau pekerjaan memilah sampah itu pekerjaan pemulung,” katanya.

Tak putus asa, Dewi menularkan ilmunya pada murid PAUD. Kebetulan Dewi juga aktif mengajar di PAUD yang ada di dekat rumahnya. Murid PAUD diminta membawa sampah bekas minumannya, seperti kotak susu atau kotak makanan lain. Hal ini pun tak berjalan mulus.

“Ada orang tua yang marah karena anaknya disuruh membawa sampah ke sekolah. Saya berupaya menjelaskan, bahwa anak-anak perlu diajarkan untuk menjaga kebersihan. Sampah itu tak selalu harus dibuang,” ujar istri dari Nofriandi ini.

Para orang tua itu akhirnya mengerti dan mereka juga ikut menabung sampah. Mereka memilah sampah yang ada di rumahnya dan membawanya ke sekolah.  Tabungan sampah itu dikembalikan ke murid-murid berupa uang ketika mereka tamat belajar. Para orang tua pun kaget tak menyangka mendapat uang dari sampah.

Cahaya terang mulai terlihat ketika Dewi bersama kader PKK, kader KB dan kader Kesehatan mengikuti Lomba Lingkungan Bersih dan Sehat tingkat nasional. Bank sampah menjadi salah satu item dengan nilai terbaik. Mereka meraih juara nasional pada tahun 2012.

“Dari sini, saya mengajak para kader membuat bank sampah memanfaatkan rumah kosong di kompleks yang sebagiannya runtuh akibat gempa,” katanya.

Dari aktivitas pemilahan sampah itu pula diketahui daerah tempat tinggalnya menjadi bebas penyakit demam berdarah. Karena sebelumnya, wilayah tersebut terkenal sebagai daerah endemik DBD. Setiap kali penyakit DBD menyerang, maka selalu ada korban jiwa.

Tetapi upayanya ini tak juga berjalan mulus. Perilaku masyarakat tidak berubah. Mereka tetap mencemooh. Dewi dituding mencari sensasi. Bahkan ada warga yang datang ke rumahnya dan marah-marah. Mereka tidak terima jika kompleks tempat tinggalnya menjadi tempat penumpukan sampah.

“Entah bagaimana mau menjelaskannya, kalau sampah itu bisa mendatangkan uang dan lingkungan juga bersih,” katanya pilu.

Meski warga sekitar mencemooh, tidak dapat menerima yang dilakukannya, tetapi ada hal lain yang membuat Dewi berbangga. Berbagai institusi dan kelompok masyarakat dari luar Kota Padang, banyak yang datang berkunjung untuk melihat dari dekat upaya yang dilakukannya. Bahkan ada yang datang dari luar negeri.

Bantuan Lepas dari Tangan

Puncak penolakan warga itu adalah ketika Dewi dapat bantuan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Provinsi Sumatera Barat senilai Rp400 juta. Bantuan itu untuk pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Reuse, Reduce dan Recycle  (TPST3R).

Saat digelar rapat di sebuah mesjid, sebagian besar warga awalnya setuju untuk membangun TPST3R itu. Tetapi ada beberapa warga yang termasuk orang ditakuti di daerah itu, tak segan-segan mengancam warga yang setuju. Akhirnya warga yang semula setuju berbalik menjadi tidak setuju.

“Akibat penolakan warga ini, maka bantuan itu pun dialihkan ke daerah lain. Dan yang menyakitkan itu adalah, saya harus membuat pernyataan bahwa kami tidak berhak lagi untuk mendapatkan program serupa,” katanya nelangsa.

Agaknya derita Dewi belum usai. Tahun 2016, rumah kosong yang dijadikan bank sampah dijual oleh pemiliknya. Sejak saat itu, tak ada lagi lokasi yang dapat digunakan untuk membuat bank sampah. Meski demikian, bagi warga yang ingin tetap menabung sampah, bisa melakukan sendiri. Mengumpulkannya dan menjualnya.

“Untuk sementara, kegiatan penimbangan sampah tidak kita lakukan karena tidak ada tempat untuk menumpuknya. Hal itu berlangsung setahun lamanya. Tetapi edukasi tetap berjalan. Saya menerima banyak undangan untuk menjadi pemateri,” katanya tersenyum.

Lalu pada 2017, Dewi mencoba menemui Camat Kuranji dan menyampaikan keinginannya. Gayung bersambut, camat memenuhi permintaannya dan membolehkannya memakai lahan parkir di Kantor Camat Kuranji yang berada di belakang gedung sebagai tempat menumpuk sampah. Bank sampah itu diberi nama Pancadaya.

Dengan penuh semangat, Dewi juga mengajak pegawai kecamatan sebagai nasabah bank sampah. Pengurus Bank Sampah Pancadaya juga sekaligus menjadi nasabah. Dia juga tak jera dengan berbagai penolakan atau pun pandangan tak sedap yang diterimanya. Karena pekerjaan yang digelutinya identik dengan pemulung.

“Setiap kali bertemu orang, saya ajak untuk menjadi nasabah pada bank sampah kami. Hingga akhirnya saya mendapatkan 38 nasabah,” katanya.

Sedikit demi sedikit cahaya terang kembali menyinarinya. Awal 2019, Dewi dan pengurus Bank Sampah Pancadaya mendapat bantuan dari Pegadaian. Saat ini sudah ada empat Bank Sampah Pancadaya dengan nasabah 151 orang. Tetapi minat warga menabung sampah itu tak sesuai dengan harapannya. Warga tak terlalu antusias.

“Setelah dikaji, ternyata mereka tak tertarik karena yang bisa disetor ke bank sampah adalah sampah tertentu, seperti yang dilakukan pemulung. Sedangkan sampah lain, terbuang saja,” katanya.

Karena itu, Dewi kembali memutar otak. Dia teringat masa kecilnya, diajarkan sang nenek membuat beragam kerajinan dari sampah, seperti bungkus permen, kulit telur dan lainnya. Dari sana pula dia mulai mengajari warga membuat kerajinan dari sampah. Dan akhirnya, tak banyak lagi sampah yang diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir Sampah.

“Kita membuat beragam kerajinan, seperti bros baju dan aksesoris lainnya dari kemasan makanan dan bungkus permen, tempat tissu, pot bunga dan lainnya memanfaatkan sampah yang tidak laku di bank sampah,” terang Dewi.

Hingga saat ini, sudah cukup banyak warga yang mendapat pelatihan darinya sudah bisa memproduksi sendiri beragam kerajinan dari sampah. Biasanya mereka membentuk kelompok. Mereka juga menerima pesanan dari berbagai kalangan.

“Jika pesanan cukup banyak, sementara mereka tak mampu untuk memenuhinya, biasanya mereka minta bantuan pada kelompok lainnya,” katanya tersenyum. (unni)

 

Catatan : tulisan ini sudah dibukukan bersama tulisan wartawan lainnya dalam Buku "Perempuan Perempuan Tangguh yang Berjuang Tanpa Batas (2021)” 

 

[--------------------------------

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diskusi Bareng FJPI di HPN 2023, Hadapi Pemilu 2024 Perlu Literasi Digital

Jangan Takut Debt Collector