Merajut Mimpi dari Pinggir Hutan
CERPEN
“Bu, aku sudah mengumpulkan kayu bakar cukup banyak,” ujar Tita pada ibunya yang sedang melipat pakaian.
“Alhamdulillah. Ya, sudah Nak. Pergilah mandi,” balas ibunya sambil tersenyum. Sulung dari dua bersaudara itu pun menghilang di balik pintu dapur.
Begitulah rutinitas yang dijalani murid kelas I SMP itu, mengumpulkan kayu bakar. Jika persediaan kayu di rumah menipis, dia segera ke hutan. Soalnya minyak tanah harganya cukup mahal dan sulit pula didapat. Makanya Lastri, ibu Tita lebih memilih masak pakai kayu. Apalagi kampung mereka belum kebagian kompor gas gratis.
Anwar tercenung mendengarkan percakapan istrinya dengan sang anak. Segelas kopi yang isinya tinggal setengah, diseruputnya dengan perasaan tak menentu. Minuman berwarna hitam itu kemudian diaduk-aduknya tak karuan, sehingga ampas kopi naik ke permukaan.
Dia menghela nafas panjang. Sudah cukup lama lelaki itu tak lagi menebang kayu. Warga kampung dilarang menebang kayu di hutan ulayat. Bagi yang melanggar, akan didenda maksimal 15 zak semen untuk setiap pohon yang ditebang.
Awalnya, beberapa warga tak mengindahkan larangan itu. Mereka tetap saja ke hutan menebang kayu. Alasannya, mereka menebang kayu hanya untuk mencari makan. Tetapi lama kelamaan, tidak ada lagi yang berani melanggar aturan yang ditetapkan Pemerintahan Nagari tersebut. Maklum selain merasa berat membayar denda, warga yang melanggar juga dikenakan sanksi sosial.
“Ayah tak perlu khwatir. Ibu masih punya simpanan yang bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari,” ujar Lastri pada suaminya sambil tersenyum.
Dia tahu kegalauan sang suami. Tiga orang anaknya butuh biaya, terutama untuk sekolah. Meski mereka orang kampung, tetapi pendidikan anak-anak tetap menjadi prioritas. Sementara saat ini, keluarga mereka hanya bertumpu pada hasil panen padi. Namun panen masih beberapa bulan lagi. Jelang panen, mereka terpaksa berhemat. Ayam yang dipelihara di belakang rumah, juga sudah terjual beberapa ekor.
“Tak ada yang bisa kulakukan.”
Ia mendesah. Desahan yang nyaris tak terdengar. Apalagi hembusan angin petang itu, agaknya lebih kencang dari desahannya. Matanya menerawang jauh. Dulu, dia tak perlu khawatir dengan kebutuhan keluarganya. Bersama beberapa warga kampung, dia masuk hutan mengambil kayu. Hutan ulayat di kampung itu cukup lebat. Kayunya besar-besar. Soal pembeli, tak perlu pula ia risau. Pesanan cukup banyak berdatangan. Dari hasil itu lah dia memenuhi kebutuhan keluarga. Sementara hasil panen, bisa ditabung.
Sisa tebangan kayu yang ukuran kecil, bisa digunakan untuk memasak. Kayu-kayu itu lah yang dikumpulkan Tita dan teman-temannya. Setiap kali ayah mereka menebang kayu, anak-anak kampung itu begembira. Mereka bermain di pinggir hutan sambil mengumpulkan kayu.
Tetapi, seorang temannya sesama petani, kala itu mengkhawatirkan kelancaran pasokan air untuk sawah mereka. Sawah yang mereka garap memanfaatkan pengairan dari sungai yang mengalir di pinggir areal persawahan. Dengan kata lain, sawah di kampung tersebut mempunyai pengairan yang tetap, tidak tergantung dari hujan.
“Jika hutan itu kita tebang terus kayunya, maka pasokan air sungai akan berkurang. Otomatis air untuk sawah kita tak cukup,” ucap sang teman bernama Kandar.
“Mengapa begitu? Air sungai tak ada hubungannya dengan kayu di hutan.”.
“Begini. Sungai yang mengairi sawah kita, berhulu di hutan belantara yang menjadi batas kampung ini. Pasokan air sungai itu berasal dari air yang diserap akar pepohonan di hutan. Jika hutan habis ditebang, maka tak ada air yang diserapnya. Ujung-ujungnya, tak ada air yang mengalir di sungai. Tentu kita tak bisa pula menggarap sawah.”
“Tetapi, kita tak bisa berharap sepenuhnya pada hasil panen. Serangan hama belum bisa diatasi. Kadang gagal panen juga mengancam.”
Anwar prihatin. Beberapa rekannya yang lain, Rusdi, Junaidi dan Rahmat mengamininya. Mereka tak setuju dengan pendapat Kandar. Jika mereka tak lagi ke hutan, bagaimana periuk nasi di rumah? Selama ini, kebutuhan keluarga selalu tertutupi dari hasil tebangan kayu.
Sang teman terdiam, bergelut dengan pikirannya. Tak mudah memberikan pemahaman pada warga tentang bencana besar yang mengintai. Tak hanya soal air untuk sawah, tetapi juga ancaman banjir bandang jika hutan sudah gundul. Air hujan yang turun dengan lebat, tak bisa lagi diserap akar pohon. Maka banjir bandang akan melanda kampung mereka. Tetapi, yang dikatakan Anwar itu ada juga benarnya.
“Apalagi kayu yang kita tebang tidak banyak. Cuma untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja. Kita tak mencari kekayaan dari kayu itu,” lanjut Anwar.
“Kita memang belum bisa berharap pada hasil panen. Tetapi kita bisa membuat usaha sampingan memanfaatkan lahan kosong. Seperti beternak ayam, kambing, sapi atau kolam ikan. Di rumah, juga bisa ditanam bermacam sayuran untuk kebutuhan harian. Sehingga kita tak perlu ke hutan lagi.”
Anwar dan rekan-rekannya yang lain hanya diam, tak menanggapi komentar Kandar.
“Kau sendiri kan sudah melakukannya dengan beternak ayam di rumah. Begitu juga Rusdi, Junaidi dan Rahmat, punya kerbau, sapi, kambing peliharaan. Itu sebuah awal yang bagus,” katanya lagi.
Anwar mengangguk-angguk. Dia tersentak dari lamunan panjangnya. Sesaat kemudian, senyum lebar tersungging di bibirnya. Mengapa tak terpikirkan selama ini. Pembicaraan dengan sang teman itu sudah berlalu dua tahun. Dia tertawa kecil, seakan menertawakan kebodohannya.
Segera dia beranjak dari duduknya. Sayup-sayup terdengar adzan Magrib dari surau kampung, mengajak umat muslim untuk segera menunaikan kewajibannya. Istrinya, Lastri dan putrinya Tita dengan mukena lengkap menghampirinya, pamit untuk ke surau. Di belakangnya menyusul Indra yang juga sudah memakai sarung.
“Ayah, Iwan tinggal dengan Ayah di rumah ya.”
“Iwan diajak saja sekalian, Bu. Ayah juga siap-siap mau ke surau.”
Wajah Anwar berbinar dan nada suaranya penuh semangat. Sang istri terpana, seakan tak percaya. Beberapa saat sebelumnya, sang suami terlihat larut dalam keputusasaan. Dia hanya memandang sang suami dari jauh, tak berani mengganggunya. Sekejap kemudian, Lastri memanjatkan rasa syukur kepada sang pencipta. Lalu bergegas mengajak si bungsu sambil meraih sebuah sarung yang tersampir di jemuran pakaian.
Malam itu mereka lewati dengan penuh suka cita. Sajian makan malam dengan menu seadanya, lauk ikan asin dan tumis sayur bening, ludes seketika. Mereka sekeluarga makan dengan lahap. Lalu saling pandang satu sama lain. Sesaat kemudian, tertawa bersama.
Makan malam terasa begitu nikmat. Apalagi mereka sudah lama tak merasakan suasana keluarga penuh kehangatan. Persisnya sejak sang kepala keluarga kehilangan pekerjaannya sebagai penebang kayu di hutan.
“Ayah...”
Si bungsu mendekati sang ayah sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. Dia minta digendong. Dengan tersenyum, Anwar menggendongnya. Sudah lama dia melupakan hal-hal kecil seperti itu. Indra meledek sang adik yang duduku di Kelas I SD tersebut. Namun Iwan tak peduli. Dipeluknya sang ayah dengan erat, seakan hendak melepas kerinduannya selama ini.
“Yah, ibu dapat informasi dari Kantor Wali Nagari, ada program pemerintah untuk meningkatkan jam kerja petani. Pemerintah menyediakan bantuan sapi. Kalau tidak salah, namanya program Satu Petani Satu Sapi.”
Lastri membuka pembicaraan sambil merapikan meja makan. Sekilas dia melihat pada suaminya yang masih menggendong Iwan. Ada sebersit cahaya di sana. Sang suami terlihat cukup bersemangat.
“Pucuk dicinta ulam tiba. Benar begitu, Bu? Bagaimana cara mendapatkannya, apa saja syaratnya?” Anwar bertanya bertubi-tubi.
“Melalui kelompok tani. Kita sampaikan saja pada ketua kelompok, kalau kita ingin dapat bantuan. Nanti datanya akan disampaikan ke Wali Nagari,” terang Lastri.
“Baiklah. Besok ayah temui Pak Darman, ketua kelompok tani kita.” Anwar benar-benar bersemangat.
Pagi menjelang. Anwar bersiap untuk menemui Pak Darman. Usai melepas kedua anaknya berangkat sekolah, Anwar pun bergegas menuruni tangga rumah. Namun langkahnya terhenti di anak tangga terakhir. Dari kejauhan, dilihatnya Wali Nagari tengah menuju rumahnya. Wali Nagari adalah pimpinan Nagari, sebutan lain untuk desa di Sumatera Barat.
Dengan penuh hormat, Anwar menyambut tamunya.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumussallam. Apa kabar Pak Wali.”
“Saya lihat, Pak Anwar bersiap hendak pergi rupanya.”
“Benar Pak. Rencana saya mau ke rumah Pak Darman, ketua kelompok tani. Mari, masuk dulu Pak Wali.”
Anwar mengajak Pak Wali Nagari naik ke rumahnya. Mereka berdua duduk di kursi yang ada teras.
“Apa ada masalah dengan sawahnya, Pak Anwar?”
“Tidak ada, Pak. Ini soal bantuan pemerintah. Saya dapat kabar dari istri, ada program pemerintah bagi-bagi sapi untuk petani. Benar begitu, Pak.”
“Benar, ada program pemerintah provinsi untuk petani. Tetapi bukan bagi-bagi sapi. Maksudnya, petani yang semata-mata hanya mengolah sawah, dapat memiliki usaha sampingan lain sebagai tambahan pendapatan keluarga. Salah satunya dengan memelihara sapi. Bisa juga beternak kambing atau ayam dan memelihara ikan di kolam.”
“Saya ingin ikut program itu, Pak Wali.” Anwar sangat antusias.
“Saya sudah daftarkan Pak Anwar sebagai salah satu penerima bantuan,” jawab Pak Wali Nagari mantap.
Betapa senangnya Anwar mendengar kabar tersebut. Teringat olehnya pembicaraannya dengan Kandar dua tahun lalu. Tak disangka, Kandar seakan punya teropong untuk melihat masa sekarang.
Para petani di kampungnya mendapatkan bantuan beragam, sesuai kebutuhan. Sapi dan kambing diperlihara untuk dikembangbiakkan. Pakannya tak perlu dirisaukan. Rumput tumbuh subur di kampung itu. Mereka tinggal menggembalakannya saja. Kotoran hewan ternak bisa pula dijadikan pupuk.
Warga yang punya halaman agak luas, disarankan mengembangkan kolam ikan lele dari terpal. Salah satunya Rusdi, yang memanfaatkan halaman belakang rumahnya sebagai kolam lele terpal. Proses pemeliharaannya tidak rumit. Masa panennya juga cepat, 3-4 bulan sudah bisa dipanen. Sedangkan pemasarannya, dibantu melalui koperasi.
“Anwar, ikan lele terpalku akan dipanen besok. Jika kau tak sibuk, aku minta bantuanmu untuk ikut memanennya,” ucap Rusdi saat bertamu ke rumah Anwar.
“Wah, luar biasa. Kau sudah bisa menikmati hasil usahamu. Aku akan membantu,” jawab Anwar mantap.
Kini para petani tak lagi mempermasalahkan larangan menebang kayu di hutan ulayat. Mereka tak lagi bergantung hidup dari hasil hutan. Bahkan mereka memberikan dukungan penuh pada Pemerintah Nagari untuk menegakkan aturan itu. Mereka menyadari, bahaya yang mengancam jika hutan terus ditebang. Bencana alam banjir bandang yang melanda beberapa daerah di Indonesia, tak terlepas dari penebangan liar.
Lagi pula, Pemerintah Nagari tidak melarang dengan membabi-buta. Masyarakat dibolehkan menebang kayu dengan alasan yang tepat, misalnya hendak memperbaiki atau membangun rumah. Karena untuk keperluan tersebut, hanya dibutuhkan beberapa pohon saja. Tetapi pohon yang ditebang harus diganti dengan menanam beberapa jenis pohon lainnya.
Tak mengherankan, jika akhirnya pohon-pohon di hutan ulayat kampung Anwar tumbuh dengan lebat. Kerapatan tajuknya tak usah ditanyakan. Cahaya matahari saja sulit menembusnya. Dapat dipastikan cadangan airnya juga luar biasa.
Kabar bahagia bagi petani di kampung itu, masih berlanjut. Istri Anwar kembali mendapat informasi baru dari Kantor Wali Nagari. Pemerintah meluncurkan program budidaya jamur tiram.
“Budidaya jamur tiram ini dikembangkan untuk masyarakat yang bermukim di pinggir hutan atau dalam kawasan hutan,” kata Pak Wali Nagari pada warga.
Lastri dan beberapa warga yang hadir di Kantor Wali Nagari saat itu, saling pandang dengan wajah sumringah. Tuhan itu sungguh Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
“Tujuan program ini, agar masyarakat tidak lagi masuk hutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Apalagi jamur tiram itu sangat mudah berkembang-biak pada lokasi lembab, seperti daerah kita ini,” lanjut Pak Wali Nagari.
Lastri sangat tertarik untuk menekuni budidaya jamur tiram. Dia sudah membayangkan, jamur tiram tak hanya bisa dinikmati sebagai sayuran, tetapi juga bisa dibuat aneka penganan, seperti krispi jamur dan rendang jamur. Wanita luar biasa itu pernah mencicipinya ketika hadir di pameran produk UKM di kecamatan. Kabar itu pun disampaikan pada sang suami.
“Budidaya jamur tiram sangat mudah dilakukan. Kita tak perlu berpanas-panas. Jamur tiram itu dikembangkan dalam sebuah kubung atau tempat menanam jamur yang lembab,” terang Lastri pada sang suami.
Anwar hanya bisa tersenyum sebagai bentuk dukungannya pada sang istri. Dia sendiri akan fokus mengurus ternak sapi dan ayam jelang panen padi. Kedua jagoannya, Indra dan Iwan tentu akan membantunya. Sedangkan Tita membantu ibunya melakukan budidaya jamur tiram. (***)

Komentar
Posting Komentar